Uncategorized

now browsing by category

 

Terminal 3 Ultimate

Angkasa Pura II has only stated that the move for Garuda to start using Terminal 3 Ultimate will start on 20 June, and information regarding other airlines are not true.

So, is the information in the photo wrong?

Of course not, the information contained plans which were later deemed to be unachievable. Going through our sources involved in the meeting revealed what the problems and difficulties were.

A source said that initially the plan was for Garuda to have it’s last flight from T2E/F on 14 June, and that Air Asia would have to have it’s first flight on 15 June from T2, while in reality, Garuda could only move it’s Ground Services Equipment to T3U while still doing the passenger handling through T2, because the available rooms that are ready (in T3U) are not enough. Then they received news that Garuda has sent a letter to Angkasa Pura II CEO that they could only move 5 domestic routes to T3U on 15 June.

If Garuda can only move 5 domestic routes to T3, that means we won’t have any room in the T2. How could we do the move?

Having multiple moves including 1 moving to an existing facility still in use by someone else, is unrealistic given the time frame as it would need a long lead time. Numerous things have to be moved and considered, such as moving phone lines and network cables, which can’t be done in 1 day (let’s not forget that the terminals were still open for business hence security would make such work slow), with other items and factors to consider, the plan isn’t workable. Other sources then also complained.

In the last meeting with Angaksa Pura II management, Sriwijaya, Garuda, Air Asia and Lion Air, it was concluded that the move from “T3 Existing” will be delayed because Garuda confirms that it could only move flights to JOG, SOC, SRG, PDG and BDJ to “Terminal 3 Ultimate”, and because most of Garuda’s flights will still be in T2, plans for other terminal moves, especially those moving out of “T3 existing” is to be delayed until further notice.

Logically, if Garuda could only move 5 domestic routes in the beginning, Terminal 2 will still be full until Garuda can move all of its operations to T3 Ultimate, and then as long as other international flights are still using T2D and T2E, the only airlines that can be moved to Terminal 2 are Air Asia group, and Sriwijaya group (Sriwijaya Air and NAM Air).

Will The Final Terminal 3 (Terminal 3 Final?) Be Adequate?

CGK-T3-Stands

Latest Parking Chart Terminal 3 / Apron G By Lido/Lufthansa

If we look at the Aircraft Parking Chart for 3 released on 19 May 2016 (effective 26 May 2016), we can see that Termina 3 has:

13 widebody aircraft contact stands or 26 narrowbody aircraft contact stands
4 contact stands for narrowbody aircraft on the left wing
4 contact stands for narrowbody aircraft on the right wing
17 remote stands for narrowbody aircraft
1 remote stand for widebody aircraft
Meanwhile, Terminal 2F has:

3 contact stands for widebody aircraft (F11, F21, F31)
8 contact stands for narrowbody aircraft (F41, F42, F51, F52, F61, F62, F71, F72)
13 – 15 remote stands for narrowbody aircrat or 4 remote stands for narrowbody aircraft and 5 remote stands for widebody aircraft.
If Terminal 3 Final only serves Garuda and SkyTeam flights, then the terminal will have adequate capacity with some room to grow in terms of aircraft traffic. However, if all international flights from Terminal 2D and 2E are moved too, then Terminal 3 Final will not have enough capacity.

CGK-T2-Stands
Parking Chart terkini untu Terminal 2 oleh Lido/Lufthansa.
If we look at Terminals 2D and 2E:

12 contact stands for widebody aircraft
4 contact stands for narrowbody aircraft
6 remote stands for narrowbody aircraft
3 remote stands for narrowbody aircraft or 5 remote stands for narrow-body aircraft

The number of widebody contact stands available at Terminal 2D and 2E is only 1 short of the number available at Terminal 3 Final. If the right wing of Terminal 3 Final has 4 more narrow-body or 3 wide-body contact stands added on the east side then the capacity would probably be slightly under the current Terminal 2. If the left wing gets given contact parking stands on the west side, which would need modifications to Remote F apron, or if Remote F Apron’s primary function moves from serving Terminal 2F to Terminal 3 Final, then the terminal can cater for all of Garuda’s narrow-body parking needs, with modest room for growth, but the ability to serve wide-bodied aircraft is still effectively constrained.

Conclusion

Moving airlines around the airport because of Terminal 3 Ultimate’s opening isn’t going to be easy. It is obvious now that the original plans to fully move Garuda domestic operations from T2F on 15 June is unrealistic and will bring certain chaos if forced. Garuda themselves appears to only be ready to move in stages commencing 20 June. The plans to move all international flights to Terminal 3 appears to only constrain that sector when it happens. On the aircraft parking aspect, short term growth for international flights at the airport could only happen if Terminal 2D and 2E remain open for international flights in addition to international flights from Terminal 3, while waiting for Terminal 4 to be built and operating.

This edition of Soekarno-Hatta’s history raises another question, that is whether or not Angkasa Pura II’s ambition (or dream) for Terminal 3 to be able to compete with Singapore Changi can be realized. Even without this issue of moving airlines around the terminals, such dream will likely remain a dream for a long time as Soekarno-Hatta Airport’s geographical location is disadvantageous in relation to economic centers in the region and the world, as well as connectivity disadvantages which is mainly due to the slot limitations.

Rather than dreaming on beating Singapore Changi, I think it is more important for Soekarno-Hatta Airport to focus on remaining to be the international gateway to Indonesia and if possible as the gateway of choice to Indonesia, and not let that position slip away and be taken by an airport in another country!

SHARE THIS: with Gerry Airways Article

GALERI

KERJASAMA ANTAR INSTITUSI

Sejak Januari 2015 Lembaga Indonesia Aviation Watch banyak menjalin kerjasama dengan fihak FEDERASI PILOT INDONESIA, ASOSIASI PILOT HELIKOPTER INDONESIA, IATCA, INACA dalam banyak pertemuan event International yang diselenggarakan oleh INACA.

Kerjasama dengan BASARNAS, CSE Aviation Consultant, Media Electronic seperti TVOne, Kompas TV, Metro TV, Majalah Aviation Magazine/AirMagz, dan beberapa instansi seperti LitBang Perhubungan, BPSDM, STPI, Kementrian Perhubungan dan lain-lain.

Diharapkan dengan kerjasama dan pertemuan rutin akan dapat membantu permasalahan Kedirgantaraan Indonesia.

Salam Dirgantara
TS

Berita IAW

QZ8501 Disebut Ilegal, Rekaman ATC Juanda Beredar di Internet

Penulis: Reska K. Nistanto | Selasa, 6 Januari 2015 | 15.52 WIB

Share: Reska K. Nistanto/KOMPAS.com

PK-AXC, Airbus A320-200 yang dioperasikan oleh maskapai Indonesia AirAsia, yang hilang sejak Minggu (28/12/2014). Registrasi AXC bisa dilihat di pintu roda depan pesawat. Foto diambil pada 17 Agustus 2012 di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
KOMPAS.com — Otoritas Bandara Juanda, Surabaya, sempat menyatakan bahwa penerbangan Indonesia AirAsia nomor penerbangan QZ8501 pada Minggu (28/12/2014) sudah mengantongi izin. Namun, kurang dari 12 jam, pernyataan tersebut diralat dengan menyatakan bahwa penerbangan tersebut ilegal.

“AirAsia tidak mengajukan perubahan izin terbang dari Sabtu ke Minggu kepada Dirjen Perhubungan Udara sehingga penerbangan Minggu ilegal,” ujar Kepala Otoritas Bandara Wilayah III Bandara Juanda Surabaya Praminto Hadi di Kompleks Mapolda Jawa Timur, Senin (5/1/2014) sore.

Praminto meralat pernyataannya setelah melakukan koordinasi dengan Dirjen Perhubungan Udara pada Senin siang.

Pernyataan terbaru tersebut justru mengundang pertanyaan besar, bagaimana mungkin sebuah penerbangan disebut ilegal, padahal ia sudah mendapat izin terbang atau clearance dari ATC (Air Traffic Controller).

Bahkan, menurut informasi yang didapat Kompas.com, penerbangan Indonesia AirAsia QZ8501 pada hari Minggu sudah dilakukan sejak akhir bulan Oktober 2014. Otoritas bandara dan Air Navigation mengetahui aktivitas itu, tetapi tak ada penindakan atas hal tersebut.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal (Purn) Chappy L Hakim pun mengungkapkan rasa herannya.

“Apabila benar AirAsia terbang di hari yang mereka tidak ada izinnya, pertanyaan besar adalah bagaimana flight plan-nya bisa di-approve,” tulis purnawirawan yang kini jadi pemerhati dunia penerbangan nasional tersebut.

Bocoran rekaman ATC

Izin terbang pun sudah didapat QZ8501 pada saat hari kejadian. KompasTekno mendapat salinan rekaman ATC Bandara Juanda pada Minggu pagi tersebut yang berisi izin dari ATC kepada QZ8501 untuk terbang rute Surabaya-Singapura.

Rekaman dengan judul file “ATC PK AXC-QZ8501 201412272225Z” tersebut diunggah di Soundcloud oleh pengguna dengan user-ID “digitizing” pada 3 Januari 2014, sesaat setelah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membekukan izin terbang AirAsia rute Surabaya-Singapura.

Rekaman yang bisa diunduh oleh publik tersebut bisa didengar melalui situs Soundcloud.

Sumber dalam KompasTekno yang tidak mau disebut namanya memastikan bahwa rekaman tersebut adalah rekaman asli ATC Juanda pada Minggu (28/12/2014). Hal itu dikonfirmasinya berdasar traffic (lalu lintas pesawat lain) yang dikontrol pada pagi itu.

File tersebut direkam dalam format UTC atau waktu Zulu (GMT +0) sehingga tanggal yang tertera masih 27 Desember 2014 pukul 22.25 GMT, yang artinya Minggu 28 Desember 2014 pukul 05.25 WIB.

Dalam rekaman audio berdurasi sekitar 20 menit tersebut, pada menit ke-10 terdengar suara dari AirAsia QZ8501 (dengan callsign Wagon Air 8501) yang memberitahukan posisinya di-parking stand A9, dengan registrasi PK-AXC (Alpha X-ray Charlie), jumlah penumpang, dan tujuan Singapura.

Percakapan tersebut kurang lebih sebagai berikut:

AWQ8501: “Tower, Wagon Air eight five zero one good morning…”
Tower: “Wagon Air 8501 good mornig Juanda Tower, go ahead…”

AWQ8501: “Eight five zero one (registrasi) alpha x-ray charlie parking stand Alpha Niner (A9) destination Singapore POB (passenger on board) one six one, request push and start, wagon air eight five zero one…”

Tower: “Wagon Air eight five zero one parking stand number Alpha niner Pushback and start approved heading west runway one zero, exit sierra two…”

Tak lama kemudian, pada menit ke-4, QZ8501 meminta izin ke ATC untuk menuju ke landas pacu. ATC kemudian mengarahkan QZ8501 ke runway 10 yang sedang digunakan saat itu.

Pada menit ke-07.07, ATC kemudian memberikan izin keberangkatan kepada QZ8501 melalui airways M635 dengan ketinggian jelajah awal 24.000 kaki.

“Wagon Air eight five zero one clear to Singapore, mike six three five level two four zero initial, RAMPY one alpha departure squawk number seven zero zero five,” demikian kata petugas ATC yang bersuara wanita tersebut.

Persetujuan dua negara

Logikanya, jika ATC telah memberikan clearance, flight plan tersebut telah disetujui dan flight plan hanya bisa dibuat dan disetujui jika sudah ada izin dan slot di kedua bandara asal dan tujuan.

Secara prosedural, jika ATC telah memberikan izin, tentunya AirAsia sudah memiliki izin terbang, sebagaimana yang diungkapkan oleh otoritas Singapura sebagai negara tujuan.

Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS) dalam situs resminya mengatakan bahwa AirAsia QZ8501 memiliki jadwal penerbangan dari Surabaya ke Singapura pada Minggu (28/12/2014).

Menurut otoritas penerbangan sipil pemerintah negara tersebut, perizinan rute Bandara Juanda Surabaya di Indonesia ke Bandara Changi di Singapura bagi maskapai AirAsia pada hari naas tersebut merupakan kesepakatan kedua negara.

CAAS menegaskan, persetujuan Indonesia-Singapura terhadap jadwal penerbangan tersebut diberlakukan sejak 26 Oktober 2014 sampai 6 Maret 2015.

“Dengan demikian, penerbangan AirAsia QZ8501 pada Minggu (28/12/2014) telah disetujui karena ada hak lalu lintas udara yang tertera dalam perjanjian layanan udara bilateral, dan slot di Bandara Changi yang tersedia,” tandasnya.

Penyelidikan Polri dan KNKT

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membekukan izin terbang AirAsia rute Surabaya-Singapura. Pembekuan ini berlaku sejak 2 Januari 2015. Pemberian sanksi ini terkait pelanggaran waktu operasional AirAsia rute Surabaya-Singapura.

Berdasarkan surat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara No AU.008/30/6/DRJU.DAU-2014 tanggal 24 Oktober 2014 perihal izin penerbangan luar negeri periode winter 2014/2015, rute Surabaya-Singapura yang diberikan kepada Indonesia AirAsia adalah hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu.

Namun, informasi mengenai pelanggaran waktu operasional dibantah AirAsia. Direktur Safety and Security AirAsia Indonesia Kapten Ahmad Sadikin menegaskan, AirAsia tak pernah mengoperasikan rute tanpa izin.

“Kalau kami tidak punya izin, kami tidak mungkin terbang,” kata Sadikin di posko antemortem, Mapolda Jawa Timur, Jumat (2/1/2015).

Kini Kepolisian Republik Indonesia (Polri) telah menurunkan tim penyidik untuk turut serta menyelidiki kecelakaan pesawat AirAsia itu. Penyidik tersebut masuk ke dalam bagian dari penyidik KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi).

“Akan kami urutkan, penyebabnya apa, siapa yang menyebabkan kecelakaan, di situlah kita akan ketahui siapa yang bertanggung jawab atas kecelakaan itu,” ujar Kapolri Jenderal Pol Sutarman di Kompleks Mapolda Jatim Senin siang.

“Kalau memang pihak korporasi (AirAsia) yang bersalah, ya kami terapkan dengan Undang-Undang Penerbangan. Adakah pasal-pasal yang dilanggar dalam UU itu,” lanjut dia.

Pihak AirAsia melalui Ahmad Sadikin mengatakan akan memberikan kerja sama secara penuh dalam penyelidikan tersebut.

Editor: Reza Wahyudi

HUMAN FACTOR SAFETY

 

The CAA uses several safety data sources to monitor risks. The best known of these is the Mandatory Occurrence Reporting Scheme (MORS). Under this scheme, all safety hazards or potential hazards involving UK registered aircraft or aircraft in UK airspace are required to be reported to the CAA’s Safety Investigation and Data Department. These reports provide an invaluable source of safety information which can be used by  specialist surveyors and, for further analysis, by the Strategic Safety and Analysis Unit.

Other information sources are also used to assess risk across the whole aviation system. These can be world-wide accident and serious incident reports, information from the UK Operational Flight Data Monitoring programmes and data from special safety studies, all supported by comprehensive operational data.

To help the CAA in its task, as well as providing industry, academia and the public at large with safety information, we published an Aviation Safety Review, 1992 – 2001. This document, CAP 735, is accessible on this website and is a comprehensive source of safety information for all aspects of aviation. We hope this information is of value and welcome any comments (see Introduction to CAP 735 for details).

Finally, the big challenge for the industry as aviation continues to grow in the future is to identify ways to improve safety. This challenge can only be met by better understanding the past so we can better predict the future. This is no easy task and new business practices are being developed to ensure this is achieved as effectively as possible.

 

Ex-CIA Pilot Gives Sworn Testimony That No Planes Hit The Twin Towers

Ex-CIA Pilot Gives Sworn Testimony That No Planes Hit The

Twin Towers

 

Ex-CIA Pilot Gives Sworn Testimony That No Planes Hit The Twin Towers

A former CIA and civilian pilot has sworn an affidavit, stating that no planes flew into the Twin Towers as it would have been physically impossible.

John Lear, the son of Learjet inventor, Bill Lear, has given his expert evidence that it would have been physically impossible for Boeing 767s, like Flights AA11 and UA175 to have hit the Twin Towers on 9/11, particularly when flown by inexperienced pilots:

‘No Boeing 767 airliners hit the Twin Towers as fraudulently alleged by the government, media, NIST and its contractors’, he stated in the affidavit.

‘Such crashes did not occur because they are physically impossible as depicted, for the following reasons: in the case of UAL 175 going into the south tower, a real Boeing 767 would have begun ‘telescoping’ when the nose hit the 14 inch steel columns which are 39 inches on center.

‘The vertical and horizontal tail would have instantaneously separated from the aircraft, hit the steel box columns and fallen to the ground.

‘The engines when impacting the steel columns would havemaintained their general shape and either fallen to the ground or been recovered in the debris of the collapsed building.

‘No Boeing 767 could attain a speed of 540 mph at 1000 feet above sea level ‘parasite drag doubles with velocity’ and ‘parasite power’ cubes with velocity.

Malaysia dan Inmarsat Rilis Data MH370

RABU, 28 MEI 2014 | 07:20 WIB

Malaysia dan Inmarsat Rilis Data MH370

Malaysia dan Inmarsat Rilis Data MH370

Seorang warga menuliskan sebuah pesan untuk mendukung dan mendoakan awak pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang, di pusat perbelanjaan Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia, (16/3). (AP Photo/Lai Seng Sin)

 

TEMPO.COKuala Lumpur - Pemerintah Malaysia dan perusahaan satelit Inggris Inmarsat telah merilis data satelit, Selasa, 27 Mei 2014, yang digunakan untuk mencari jalur Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 yang hilang sejak Maret lalu. Data dari satelit ini mencangkup komunikasi pesawat yang dibuat dalam sebuah laporan.

“Data sebanyak 47 halaman ini mewakili semua panggilan komunikasi dan penerbangan terakhir MH370,” kata juru bicara Inmarsat kepada Reuters, Selasa, 27 Mei 2014.

Peluncuran data ini dilakukan setelah keluarga penumpang yang memprotes pemerintah Malaysia karena dianggap menutup-nutupi data MH370 selama proses pencarian berlangsung. Mereka berharap, data ini akan akan membantu analis dan tim dalam melakuakn pencarian yang lebih luas. (Baca: 4 Spekulasi Jejak MH370 Tak Terpantau Radar TNI)

“Pertama kali kami meminta data ini sudah dua bulan yang lalu. Saya tidak menyangka kendala seperti ini bisa terjadi,” kata Sarah Bacj, mitra penumpang dari Amerika.

Berdasarkan data dari Inmarsat dan analis, pesawat MH370 diyakini telah jatuh di Samudera Hindia di sebelah barat Australia.   Inmarsat juga mendeteksi sinyal ping di area Samudera Hinia, sekitar 1.550 km ( 960 mil) barat laut dari Perth, yang diyakini berasal dari kotak hitam. (Baca: Ungkap Keberadaan MH 370, Inmarsat Makin Tenar)

Sementara itu, peneliti dari Malaysia mencurigai seseorang telah mematikan data link yang membuat MH370 tidak bisa dilacak. Namun, sepanjang penelitian, belum ditemukan bukti kuat atas dugaan itu. (Baca: Info Radar MH370 Mungkin Sengaja Disembunyikan)

Pada pertengahan Mei, Malaysia, Cina, dan Australia sepakat kembali memeriksa data terkait dari MH370 untuk menentukan lokasi pencarian. Malaysia juga memimpin penyelidikan internasional resmi di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang penyebab kecelakaan yang membingungkan ini.

 

RINDU P HESTYA | REUTERS

 

Delay Berjam-jam, Penumpang Garuda Ngamuk

MINGGU, 25 MEI 2014 | 14:48 WIB

Delay Berjam-jam, Penumpang Garuda Ngamuk

Delay Berjam-jam, Penumpang Garuda Ngamuk

Pesawat Garuda Indonesia. Tempo/Fahmi Ali

 

TEMPO.COJakarta - Sebanyak 150 penumpang Garuda GA 330 tujuan Jakarta-Surabaya telantar di ruang tunggu Terminal II F Bandara Soekarno-Hatta sejak Sabtu malam, 24 Mei 2014, pukul 21.50 hingga Ahad pagi, 25 Mei 2014. Sempat terjadi cekcok mulut antara penumpang dan petugas maskapai karena petugas tidak bisa memastikan kapan pesawat akan berangkat.

“Situasinya sempat memanas, ada yang gebrak meja customer service, gebrak kaca karena petugas yang memberikan penjelasan mencla-mencle,” ujar Indah Khuratul Aini, salah satu penumpang yang telantar, saat dihubungi Tempo, Ahad, 25 Mei 2014.

Menurut Indah, insiden ini berawal dari keresahan sekitar 150 penumpang pesawat yang menunggu hingga beberapa jam pesawat GA 330–semestinya berangkat ke Surabaya pukul 21.50–yang tidak kunjung terbang. “Sempat delay awal 20 menit, dijanjikan terbang 22.10, tapi lewat dari 22.30 tidak ada informasi lanjutan dan seluruh calon penumpang GA 330 mulai telantar,” kata perempuan 26 tahun ini.

Saat itu, kata Indah, maskapai hanya memberikan mereka kompensasi sekotak roti dan sebotol air minum berukuran kecil. Dan hingga pukul 23.00, pesawat belum juga terbang. Calon penumpang pun mulai resah dan menuntut kejelasan.

Para penumpang menuntut kejelasan kepada manager on dutyyang bertugas bernama Dulham Muhammad. “Saat itu Dulham mengatakan pesawat GA 330 tidak ada pilot dan krunya,” kata Indah.

Karena tidak kunjung mendapatkan informasi yang akurat dan kepastian akan terbang, para penumpang mulai marah. Emosi mereka semakin memuncak ketika dua penumpang perempuan yang mengaku model diizinkan masuk ke penerbangan selanjutnya. Namun hal ini digagalkan karena dikejar penumpang lainnya.

Hingga larut malam, karena sudah telantar beberapa jam, para penumpang menuntut pihak maskapai memberikan kompensasi berupa uang akomodasi dan transportasi sesuai dengan aturan penerbangan. Setelah perdebatan yang cukup alot di boarding room, para calon penumpang meminta seorang manajer menemui mereka untuk bertanggung jawab.

Penumpang kian marah setelah tak bisa menemui pejabat yang berwenang. “Yang membuat kami marah, tidak ada kepastian kapan kami akan diberangkatkan. Saat kami minta dicetak boarding pass yang baru (ganti jadwal), mereka memberikan print out jadwal penerbangan,” kata Indah.

Maskapai Garuda, kata Indah, sempat menawarkan penumpang untuk menginap di hotel, tapi sebagian besar penumpang menolak dengan alasan akan mengikuti penerbangan selanjutnya. Penumpang yang bertahan dengan pesawat GA 330 menunggu dilounge Terminal II F sampai pukul 06.10.” Pukul 06.45, pesawat GA 330 A mulai terbang,” kata Indah.

Juru bicara Garuda Indonesia, Pujobroto, saat dihubungi Tempo mengaku belum menerima laporan terkait dengan insiden tersebut. “Nanti saya kroscek dulu,” katanya.

JONIANSYAH

 

Garuda Beri Kompensasi Rp 700 ribu Per Penumpang

SENIN, 26 MEI 2014 | 03:17 WIB

Garuda Beri Kompensasi Rp 700 ribu Per Penumpang

Garuda Beri Kompensasi Rp 700 ribu Per Penumpang   

Pesawat Garuda Indonesia. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

 

TEMPO.CO Jakarta: Para penumpang pesawat Garuda dari Jakarta tujuan Surabaya yang keberangkatannya tertunda tujuh jam, sepuluh menit, karena masalah teknis, mendapat kompensasi Rp 700 ribu per orang.

Pesawat dengan nomor penerbangan GA 330 dijadwalkan bertolak dari Jakarta ke Surabaya pada Sabtu, 24 Mei 2014, pukul 22.50, dengan 148 orang penumpang. Namun, karena masalah teknis pesawat tertahan di Surabaya. sebagian penumpang diberangkatkan malam itu juga dengan sejumlah penerbangan berikutnya. Adapun 78 lainnya tertahan di Jakarta.

Penumpang yang tersisa itu akhirnya baru dapat diangkut Ahad pagi, 25 Mei 2014,  sekitar pukul 07.00. “Seluruh penumpang sudah diberangkatkan tadi pagi. Kompensasi juga sudah beres semua,” kata Vice President Corporate Communications PT Garuda Indonesia Pujobroto.

Menurut Pujobroto, kompensasi tersebut perinciannya Rp 300 ribu untuk pengganti keterlambatan, dan Rp 400 ribu untuk penginapan. “Penumpang yang lainnya sudah dicicil (keberangkatan mereka) dengan penerbangan GA 302, 332, dan 304,,” jelasnya.

Sebanyak 72 penumpang itu, kata Pujobroto, sebetulnya sudah ditawari untuk menginap di hotel sembari menunggu penerbangan mereka. Namun para penumpang memilih menginap di Bandara Soekarno – Hatta. (Baca juga: Tahun Ini Garuda Indonesia Datangkan 27 Pesawat Baru).

 

“Kompensasi keterlambatan lebih dari 4 jam sebesar Rp 300 ribu. Dan kompensasi buat akomodasi hotel Rp 400 ribu. Totalnya Rp 700 ribu per penumpang,” rincinya.

 

KHAIRUL ANAM

 

 

20 Penumpang MH370 Ternyata Teknisi Militer AS

SENIN, 24 MARET 2014 | 08:53 WIB

20 Penumpang MH370 Ternyata Teknisi Militer AS

20 Penumpang MH370 Ternyata Teknisi Militer AS

Seorang pekerja membersihkan layar elektronik yang menampilkan pesan simpati untuk keluarga penumpang pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang di Kuala Lumpur, Malaysia (22/3). (AP Photo/Lai Seng Sin)

 

TEMPO.COKuala Lumpur - Freescale, perusahaan Amerika yang bergerak di bidang produksi dan merancang alat-alat berat termasuk mikrocip untuk industri pertahanan, mengungkapkan 20 karyawannya merupakan penumpang pesawat Malaysia Airlines MH370 yang dinyatakan hilang sejak Sabtu dinihari, 8 Maret 2014.

Ke-20 karyawannya itu merupakan staf senior Freescale dengan rincian 12 orang berkebangsaan Malaysia dan delapan lainnya warga Cina. “Mereka semua memiliki banyak pengalaman dan berlatar belakang teknis. Mereka merupakan orang yang sangat penting,” kata juru bicara Freescale, Mitch Haws, seperti dikutip Express.co.uk, Rabu, 19 Maret 2014.

Mereka terbang dengan MH370 dari Kuala Lumpur ke Cina untuk bertemu rekan bisnisnya guna  meningkatkan pelayanan terhadap produk yang dibeli konsumernya. (Baca:Peti Kemas dan Sabuk MH370 di Perairan Perth?)

Pemilik saham Freescale di antaranya Carlyle Grup, investor saham swasta yang pemiliknya adalah sejumlah penasehat mantan Presiden Amerika Serikat, Goerge Bush Sr, dan mantan Perdana Menteri Inggris John Major.

Saudi Binladin Grup, perusahaan konstruksi milik keluarga Osama bin Laden, merupakan salah satu klien Carlyle.

Tak heran kemudian muncul dugaan penghilangan MH370 adalah sebuah kejahatan konspirasi. Sebelumnya, hilangnya pesawat ini diduga sebagai bentuk aksi terorisme. (Baca:4 Negara Simpan Info Pencarian MH370)

Para ahli telah bertanya-tanya dengan pesawat jet berpenumpang ratusan orang penerbangan pesawat itu tidak terdeteksi. Belakangan pesawat itu baru terdeteksi oleh radar militer.

EXPREES.CO.UK | MARIA RITA HASUGIAN